Ban Michelin Ubah Peta Kekuatan MotoGP: Jack Miller Bongkar Alasan Mesin V4 Kini Lebih Unggul

Ban Michelin Ubah Peta Kekuatan MotoGP: Jack Miller Bongkar Alasan Mesin V4 Kini Lebih Unggul
Ban Michelin Ubah Peta Kekuatan MotoGP: Jack Miller Bongkar Alasan Mesin V4 Kini Lebih Unggul.

JAKARTA - Perubahan besar di MotoGP ternyata bukan cuma soal mesin, tapi juga soal ban belakang. Hal inilah yang diungkapkan langsung oleh pembalap Pramac, Jack Miller, saat membahas kenapa mesin V4 kini makin mendominasi MotoGP.

Menurut Miller, evolusi ban belakang Michelin dalam dua sampai tiga tahun terakhir menjadi faktor kunci yang membuat keseimbangan teknis MotoGP condong ke arah motor bermesin V4.

Ban Belakang Jadi Penentu Utama

Miller menjelaskan, ban belakang Michelin versi terbaru punya potensi luar biasa, tapi juga sangat sensitif.

“Ban belakang sekarang punya potensi besar. Tapi untuk memaksimalkannya, motor harus benar-benar ‘nempel’ ke aspal,” ungkap Miller dengan gaya santainya.

Ban ini bukan cuma dipakai untuk akselerasi, tapi juga untuk pengereman dan menjaga kecepatan di tengah tikungan. Masalahnya, jendela kerja ban ini sangat sempit. Sedikit saja salah setelan, performa langsung turun drastis.

Kalau sudah pas? Hasilnya luar biasa. Tapi kalau meleset sedikit, motor bisa terasa benar-benar “mati”.

Alasan Performa MotoGP Naik-Turun Drastis

Kondisi ini juga menjelaskan kenapa performa tim MotoGP bisa berubah ekstrem dari satu seri ke seri berikutnya.

“Di satu akhir pekan, motor bisa sangat kencang. Minggu depannya, tiba-tiba kesulitan,” kata Miller.

Ia mencontohkan Yamaha yang masih menggunakan mesin inline. Saat grip lintasan rendah atau saat tim lain tak bisa memaksimalkan ban belakang lunak, Yamaha justru bisa tampil lebih kompetitif.

Sebaliknya, tim bermesin V4 sangat bergantung pada ban belakang lunak. Tanpa ban itu, motor terasa sulit dikendalikan, terutama saat pengereman.

Yamaha Beralih ke Mesin V4 Mulai 2026

Yamaha, yang selama era MotoGP empat-tak sukses besar dengan mesin inline—termasuk meraih 8 gelar juara dunia, terakhir lewat Fabio Quartararo pada 2021—akhirnya mengambil keputusan besar.

Mulai MotoGP 2026, Yamaha resmi beralih ke mesin V4, mengikuti jejak para rivalnya.

Meski tertinggal pengalaman dibanding pabrikan lain yang sudah lebih dari satu dekade memakai V4, Miller yakin Yamaha mampu mengejar ketertinggalan.

“Mereka benar-benar all-in dengan proyek baru ini,” tegasnya.

Tantangan Ganda: V4 dan Regulasi Baru 2027

Tak hanya fokus ke mesin V4, Yamaha juga harus menyiapkan motor 850cc dengan ban Pirelli untuk regulasi MotoGP 2027.

Menurut Miller, keputusan Yamaha ini adalah langkah proaktif agar tetap kompetitif di masa depan.

“Kalau tidak bergerak sekarang, mereka akan tertinggal jauh,” ujarnya.

Para insinyur Yamaha disebut sudah bekerja ekstra keras selama 18 bulan terakhir, dan kerja berat itu masih akan berlanjut setidaknya dua tahun ke depan.

Inline Tinggal Kenangan?

Dengan perubahan ini, kemenangan terakhir motor bermesin inline di MotoGP untuk sementara masih milik Alex Rins bersama Suzuki di Valencia 2022. Setelah itu, dominasi V4 semakin sulit dibendung.

Proses belajar Yamaha akan mulai diuji saat tes MotoGP 2026 dibuka lewat Sepang Shakedown pada 29–31 Januari.

Satu hal yang pasti, MotoGP sedang memasuki era baru—dan ban belakang kini jadi senjata paling menentukan.

Tinggalkan Komentar anda Tentang Berita ini